Senin, 01 Agustus 2016

Filled Under:

Kopi

Sair sabda rindu menyentuh rasa dengan sunyi menjadi alasan keterkaitan kata dari sudut - sudut kehidupan yang sering terlupakan.
Cara pandang yang berbeda memberikan warna abstrak pada garis - garis setiap renungan uluhiyah.
Bagaimana mungkin terheran dengan ayat menjelma irama nan merdu?. satu saja memberikan tafsir beda.
Sore menjelang malam datang salam bersama angin tebarkan senyum ke mana - mana.
Raut wajah sayu namun menggelitik dengan kebahagiaan terpancar secangkir kopi terhidang disajikan.
Kopi identik orang malas, lama duduk terlihat melamun agak gila dengan kepulan asap hitam, namun tak sehitam hati mereka yang berani mencibir tanpa muka.

Kopi menyapa perbedaan membuka cerita dalam keterasingan saling sapa awal cerita akrab terasa tak tertutup etnis suku manusia.

Mereka yang terlalu kaku untuk kesetaraan yang harus nya bisa terbentuk di setiap moment, mereka kurang ngopi,

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 Kaiwansi.