Batas budaya agama
sekarang batas tak terlintas sebagai batas kemanusian sejatinya, seorang hamba sahaya tak punya daya upaya, kehendak adalah dusta baginya, jika mimpi itu nyata maka ia bisa segalanya, kehidupan berumah tangga acap kali hanya teori, atau terkadang diakusi di warung kopi merubah jadi akrab, tanpa riset penelitian menuju munaqosah semua orang bebeas berkisah, beriang-riang di antara kepulan asap, dunia berbeda di luar sana, baju hanya jubah keimanan
, adakala punya wewenang melwpas mengganti tak peduli aturan tuhan, terlihat bebas saja mana saat mata hati tertup budaya, ini fatamorgana kawan, sejak adam diturunakan di bumi bukankah memang takdir mereka untuk berpisah? tidak usah kau sangkal itu fakta, bahwa garis Tuhan punya hukum muthlak.
ini terlalu melebar, budaya atau agama, seringkali menjadi obrolan tak berujung, cerita mereka berjalan diatas garis lurus hubungan antara manusia, kemudian mencoba merubah Firman dengan tema emansipasi di luar ketentuan, bahwa sejatinya adam dan hawa bebas melakukan apa saja, suka-sama suka berarti jaiz, halal alebih tepatnya, itu ada jadi pemandangan seperti terkubur dalam imajinasi mereka, kelak kemana mereka akan lari dari janji tuhan, komitmen hamba dalam perut ibunya ketika datang malaikat (entah siapa) bertanya, "apakah kau siap menyembah tuhanmu?" "ya". bulshit dia berbohong, fitrah terlahir di muka bumi sebagai khalifah tergusur oleh kebiadaban peradaban tak beradab, sayangnya sang tua tak pernah menjinakan naliri muda untuk lari ke arah Tuhanya, dia masih saja bercermin pada layar kaca, sedang dalam gari kehidupan manusia diciptakan berbeda-beda tapi yang lata tak puas akan nikmat yang ada, karena gengsi adalah ajang menjijikan menjinakan mereka seperti hawa menghasut adam keluar dari surga, jika kemudian menyalahkan adam dan hawa dijadikan alasan untuk hidup diantara fatamorgana itu juga sebuah kesalahan, Jalan hidup sudah ditakdirkan, roda kehidupan sudah ada ketika ibilis protes nggan menyembah adam, sujud bukan menyembah, tapi ia abaikan saja, alih-alih mengelak hanya Tuhan akan disembah, dia lupa penolakannya jua adalah dosa, ia memang cerita lama, bahakan sama untuk mereka yang berbeda agama, walau hanya redaksi.
kemudian saat peradaban menuntut tampak pemandangan itu lebih jelas, hati tertup berarti mati, celoteh-celoteh bisingkan teling menggelegar bak kicauan chidori (seribu burung) ini memang aneh, bisa-bisanya ia menghapus undang-undang tuhan, mengganti dengan pena rasio, atau mungkin hanya akal tak terbatas bisa mengalahkan firman Tuhan bahwa andai saja lautan ini dijadikan tinta sampai habis untuk menulis dan kemudian didatangkan sedemikian rupa niscaya tak kan pernah bisa menuliskan nikmat keagungan Tuhan, menjadi semakin terlihat rapuh, bangkai-bangkai berjalan tak diurus secara layak oleh ahli waris, lebih tajam dari mata pisau mata mencoba mencabik-cabik martabat hawa, sayangnya busana lebih memiakau menutup mata indra dan hati.
hari semakin sore, lebih indah bila sang tua bergegas anak2 untum memberi petuah, tugasnya sudah semakin menemui masa, sa'ah bukan cerita akan datang pada waktu yang tak diduga.
#bingung
0 komentar:
Posting Komentar