Senin, 22 Juni 2015

Filled Under:

Pelarian Penjara

Hubungan mereka sudah tak harmoni lagi, setelah 2 minggu cerita canda tawa di atas rangkaiakan kata membentuk bingkai-bingkai indah  mempesona, terlihat dari sini jelas sekali bintang-bintang di angkas berkedip iri, tersipu merah saksikan adam bisa tertunduk di bawah tatapan dewi, memenjara bentuk rangkaian baja memasung kejam, lentik irama jemari penuhi kesibukan, sampaikan kabar rindu demi kepuasan dahaga sang pujangga, celoteh hanya ada kala itu menjelma merajai pengobat rindu setiap waktu, sering bergumam hantar angan pada imajinasi "kapan dan dimana?" mencoba ciptakan takdir dalam cermin kehidupan adalah nyata, sia sia pantas ia tak peduli, berlari adalah luka semakin dalam.

Alkisah di sebuah pertapa para kehendak penempuh fase ujung kehidupan, tampak disana pasangan adam mengikat satu ikrar janji suci cinta abadi, di depan malaikat menyaksikan geli bagaimana process itu bersemi menjadi hidup nyata melepas pujangga, sepasang merpati terpisah takdir pulang dengan melukis rindu, mengatas namakan Tuhan semakin terdengar sakral mencekam saja, seperti rengekan anak kecil meminta mainan pada sang ibu. Pria itu hanya duduk bersandar pada takdir di sebuah jalan kehidupan, sebagai sahaya abdikan hidupnya untuk tuan, menyaksikan prosesi ikrar janji sumpah suci cinta abadi. Bila mana ada cinta jadikan pemandangan indah taman kota safari, matanya mulai kehilangan cerita sedih, dapati lesung pipi merah merona tersenyum manis lalaikan dunianya, sekali atau mati, atau sekali berarti mati, ia mulai berlari riang kecil menyambut tampak ada setitik cahaya berikan harapan Tuhan, torehkan lembaran baru kehidupan secawan angggur dalam mabuk terasa adalah fakta duduk mesra berdua pada cerita, sang dewi yang membuatnya gila, datang merasuki akal fikiran sampai jiwanya, perlahan jiwa yang terpenjara mulai bebas lepas, setiap detik adalah bahagia bersama. kicauan burung bernyanyi berirama, berikan nada nada sandiwara ala para sufi, kaki tertancap kaku di atas bumi, biarkan rumput-rumput bergoyang menggelitik lirih dalam syahdu, sejatinya akal adalah utama beroperasi kala itu masih sunyi, gemercik air sungai mengalir di antara bebatuan, namun nilai kehidupan sang adam membelenggu dalam derai asmara, cinta menyebutnya perasaan dalam. Ia tahu benar pabila cinta datang bodoh untuk berlari, cinta itu datang tak kenal waktu, tak kenal musim, juga tak kenal siapa saja, hakikat cinta adalah hakiki, punya cerita setiap individu. Kini adam mulai berlayar, mengarungi samudra biru, Namun sejatinya cinta hanya milik tak berarmada, sekali berlayar pantang pulang dengan tangan kosong, bebani masa depan, lautan terlalu dalam untuk sejenak saja mengambil alih kendali hidupan ini, jua ia tau betul bahwa sangkakala sudah sejak dulu terbentang luas, tunjukan kekuasaan tuhannya, begitu mawar berduri adalah resiko kenapa harum itu sampai membuatnya terlena begitu dalam. Kemesraan mereka tidak berlangsung lama, badai di padang pasir semakin menutup jarak pandang indra, langkah menjadi berat, sedikit saja terasa, benar adanya rasa sakit.

Jika penjara adalah sangkar emas berkilau berikan kesejukan tak termanai, sejuta rasa berkala diantara jalan-jalan buntu, takdir dengan setangkai mawar merah mekar merkah, namun kemudian masa hantar pada titik temu perapian di bawah rembulan ketenangan, menjadi pilihan berat ketika adam adalah berdiri di sebuah penghujung jalan buntu, cinta itu membuat buta, masih melihat samar tapi jelas dibalik air mata berkaca-kaca, menyesal bukan pilihan, kini ia berdiri diantara dua pilihan yang sama-sama sulit, untuk sebuah klan pembawa dunia sana, atau cinta yang membawanya kepelayaran dermaga?.

1 komentar:

Copyright @ 2013 Kaiwansi.