Kata kehidupan bersosial perlu dipelajari untuk mejaga hati satu sama lainya, menjaga perasaan orang lain agar tidak tersakita, aku jadi teringat sebuah maqolah ”ucapan bisa menembus sesuatu yang tidak bisa ditembus oleh jarum” aku bukan filsuf yang dengan mudah bisa menafsirkan maqolah dengan mudah, aku hanya peminum kopi bisa, duduk di pojokan warung itu
, mencoba mencerna setiap apa yang kudengar, benar juga dia yang berkata “orang bodoh akan terlihat bodoh ketika ia sedang duduk bersama orang berilmu”, aku jadi sedikit menaruh curiga pada Tuhan, kenapa si qoil bisa tahu dengan apa yang akan terjadi, padahal ia hidup di masa lalu, apa mungkin ia seorang rasul dan nabi, itu mustahil karena aku yakin dan bersaksi bahwa nabi dan rasul terakhir secara kasat mata sudah wafat, 14 abad silam, mana mungkin ia bisa berbicara kepadaku.
, mencoba mencerna setiap apa yang kudengar, benar juga dia yang berkata “orang bodoh akan terlihat bodoh ketika ia sedang duduk bersama orang berilmu”, aku jadi sedikit menaruh curiga pada Tuhan, kenapa si qoil bisa tahu dengan apa yang akan terjadi, padahal ia hidup di masa lalu, apa mungkin ia seorang rasul dan nabi, itu mustahil karena aku yakin dan bersaksi bahwa nabi dan rasul terakhir secara kasat mata sudah wafat, 14 abad silam, mana mungkin ia bisa berbicara kepadaku.
Dan kata “nerimo ing pandom” terdengar asing di telinga ini, menggelitikhati untuk segera angkat kaki, Sajak-sajak ini sudah lama tak menghiasi mata dan telungaku, terlihat angkuh nan congkak, tapi patut dibanggakan pengabdian tanpa batas tak mampu membayar dalamnya rasa cinta kasih dan sayang dari orang tua, meraka bak surya menyinari dunia, apa pun itu tafsiranya, yang kutahu pengetahuan sudah ku ketahui lebih dalam dari tafsiran yusuf atas mimpi raja.
Seperti bisa, kopi ini membiarkan ku terbang bebes mengarungi inci-demi inici sudut dari samudra, berikan suasana ketenangan tak termanai oleh akal sehat, bisa diungkapkan dengan kata-kata gila pecandu nikotin, terkadang mampu melawak paksa barisan pengoyak nasi ini tampil, meski terlihat samar dibalik sepasang bibir hitam pekat oleh asap rokok, cairkan suasana lamunan, cerita lama tak berirama tak mengetuk daun telinga, perlahan tapi pasti mulai ditulis oleh mulut manis rasa cawan kecoklatan, layak teman lama tak jumpa, kami bercengkrama di bawah fajar sedang malu-malu kucing di ufuk timur, belum terdengar lantunan kalam suci dari sepeker, siratkan masih cukup untuk menghunus 234 dari balik kertas hijau ke kuningan. Shit rasa bosan membisik lirih menghasut otak untuk menggerakan mulut pamit undur diri, aku harus tega memotong saat-saat indah itu. Tiba-tiba terdengar suara aneh seperti sepeda motor mrnjadi topik baru arah celotoh pagi ini, dari kejauhan terlihat bapak tukang parkir menenteng kucing gemuk putih sudah berat memompa paru-parunya, dengan cepat analisa bak detektif mencoba menerjemahkan, sejenak termenung, tampak monitor editing video rekayasa kejadian, memutar otak sekilas sepasang ini melirik sepeda motor berhenti sejenak, belum ketemu lalu, bapak parkir itu megumpak lontarkan sumpah serapah, tak tau diri sepeda itu acuh membiarkan si kucing hampir maiti tergeletak dan kemudian mati, mulai tersusun dan berhasil menyimpulkan si lidah menafsirkan “tabrak lari se ekor kucing di pagi hari”. Suasana menjadi hening satu dua detik mulai membahas kucing munculcerita kucing yang mati, ceritanya hampir sama hanya saja sang tuan merasa berdosa setelah grobaknya melindas si kucing, masih ada waktu daya kuasasi kucing lari di kejar ditunggu memastikan apakah sikucing akan mati, kisaran lima menit katanya, ia menyaksikan izroil berperan atas binatang itu. Takhayul mitos atau hanya sekedar ideologi karena si kucing adalah binatang kesayangan bapak kucing, dihantui perasaan takut dan bersalah ia memperlakukan bangakai itu, layak mayat manusia, dikuburkan.
Aku semakin tidak tahan kaki ini semakin menjijikan mendorongku jatuh keluar tikar lesehan kami, tak lama berselang transaksi speda gagal upaya pdkt demi sepeda motor butut tua sia-sia, sudah kuputuskan tubuh ini tidak mau lagi diajak kompromi dan akhornya setelah selesai pembayaran sebungkus sam su plus segelas kopi, aku langsung angkat kaki pergi ke penjara suci para santri.
Sudah siang sekitar pukul 10.00 pojok tujuan utama kenapa harus bergegas, dalam hati berangan-angan ingin sekali melukiskan ayat-ayat kata bijak dari bangku itu, dipercepat langkah, sedikit tergesa-gesa terlihat memamaksa, hidup ini akan terasa kurang tanpa bisa duduk di warung kopi, di sana siapa saja ada ada siapa saja, tak peduli yang muda atau pun yang tua.
كمال الحب بالاعمال وليس ذالك بالاقوال
Itu apa? Tidak begitu paham tapi, ini seperti sebuah sya’ir tentang hubbul wathon.
Lalu? Hanaya petuah dari sang tua
Lho? Ya dari kalimat itu menunjukan cinta kepada sebuah negara (tanah air) bukan hanya dengan ucapan tapi harus ditunjukan juga dengan Tindakan
0 komentar:
Posting Komentar